Universitas PGRI Yogyakarta

Berita Utama

Hari Kesaktian Pancasila 2026: Meneguhkan Nilai Persatuan di Tengah Perubahan Zaman

Setiap tanggal 1 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila, sebuah momentum untuk mengenang perjalanan sejarah bangsa sekaligus merefleksikan kembali arti penting Pancasila sebag…

oleh Humas UPY

Setiap tanggal 1 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila, sebuah momentum untuk mengenang perjalanan sejarah bangsa sekaligus merefleksikan kembali arti penting Pancasila sebagai dasar negara dan pemersatu bangsa.

Pada tahun 2026, peringatan Hari Kesaktian Pancasila kembali menjadi ruang refleksi bagi seluruh elemen masyarakat, termasuk dunia pendidikan tinggi. Bagi perguruan tinggi, momentum ini tidak semata-mata dimaknai melalui upacara atau seremoni, tetapi juga sebagai pengingat bahwa nilai-nilai Pancasila perlu terus hadir dalam kehidupan akademik, sosial, dan kemasyarakatan.

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila secara nasional pada 1 Oktober 2026 dilaksanakan dengan mengacu pada pedoman pemerintah. Upacara tingkat pusat diselenggarakan di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Di lingkungan kampus, Pancasila seharusnya tidak berhenti sebagai materi yang dipelajari di ruang kelas. Nilai-nilainya dapat tumbuh melalui hal-hal sederhana yang dilakukan setiap hari.

Menghargai pendapat teman ketika berdiskusi, bekerja sama dalam organisasi, memberikan ruang bagi perbedaan, menjaga etika dalam menyampaikan kritik, hingga menggunakan media sosial secara bertanggung jawab merupakan bagian dari praktik nilai Pancasila dalam kehidupan mahasiswa.

Sebab, menjadi generasi Pancasila bukan berarti harus selalu berbicara tentang Pancasila. Lebih dari itu, nilai Pancasila dapat terlihat dari cara seseorang memperlakukan orang lain.

Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, tantangan generasi muda pun semakin beragam. Perbedaan pendapat dapat dengan mudah berubah menjadi perdebatan, sementara informasi yang belum terverifikasi dapat menyebar hanya dalam hitungan detik.

Dalam situasi tersebut, semangat persatuan menjadi semakin penting.

Perguruan tinggi merupakan ruang perjumpaan berbagai latar belakang. Mahasiswa datang dari daerah, budaya, keluarga, pengalaman, dan cara pandang yang berbeda. Perbedaan tersebut bukan sesuatu yang harus dihilangkan, melainkan menjadi bagian dari kekayaan kehidupan akademik.

Di kampus, mahasiswa belajar bahwa tidak semua orang harus memiliki pendapat yang sama. Perbedaan pandangan justru dapat menjadi kesempatan untuk belajar mendengarkan, memahami, berdialog, dan mencari solusi bersama.

Semangat tersebut sejalan dengan nilai Pancasila yang menempatkan persatuan sebagai bagian penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Karena itu, Hari Kesaktian Pancasila dapat menjadi pengingat bahwa menjaga persatuan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Ia dapat dimulai dari lingkungan terdekat: ruang kelas, organisasi mahasiswa, komunitas, tempat tinggal, hingga ruang digital.

Hari Kesaktian Pancasila juga tidak dapat dilepaskan dari perjalanan sejarah Indonesia. Peringatan setiap 1 Oktober menjadi momentum untuk mengenang peristiwa sejarah yang terjadi pada 1965 sekaligus meneguhkan kembali pentingnya menjaga Pancasila dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemerintah secara rutin menjadikan Monumen Pancasila Sakti sebagai lokasi utama peringatan tingkat nasional.

Namun, memaknai sejarah bukan berarti sekadar menghafalkan tanggal dan peristiwa. Sejarah seharusnya membantu generasi muda memahami bagaimana sebuah bangsa menghadapi berbagai tantangan dan mengapa persatuan menjadi sesuatu yang perlu terus dirawat.

Bagi mahasiswa, belajar sejarah berarti belajar memahami perjalanan bangsa dengan kritis, terbuka, dan bertanggung jawab. Dengan pemahaman tersebut, generasi muda dapat mengambil pelajaran dari masa lalu tanpa kehilangan semangat untuk membangun masa depan.

Pancasila akan tetap hidup ketika nilai-nilainya hadir dalam tindakan nyata.

Di lingkungan perguruan tinggi, pengamalan tersebut dapat diwujudkan melalui budaya akademik yang menjunjung kejujuran, menghargai keberagaman, membangun kolaborasi, menyampaikan pendapat dengan santun, serta menggunakan ilmu pengetahuan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Mahasiswa juga memiliki peran penting dalam menciptakan ruang digital yang sehat. Sebelum membagikan sebuah informasi, misalnya, membiasakan diri untuk memeriksa sumber dan kebenarannya. Sebelum memberikan komentar, belajar mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain.

Kelihatannya sederhana. Namun, justru dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah karakter kebangsaan dibentuk.

Hari Kesaktian Pancasila pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana kita mengingat sejarah, tetapi juga tentang bagaimana kita membawa nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan hari ini.

Mari menjadikan Pancasila bukan sekadar sesuatu yang kita hafalkan, tetapi nilai yang kita hidupi—dalam belajar, berkarya, berdialog, bekerja sama, dan memberikan manfaat bagi sesama.